
Kalau skenario “bebenguk” AI ini sampai ke titik sangat gila, di mana hampir semua pekerjaan manusia (dari kuli panggul sampai AI Engineer itu sendiri) digantikan sistem otomatis, kira-kira apa yang akan terjadi?
Dalam sebuah buku “A World Without Work” oleh Daniel Susskind (2020) – Seorang ekonom dari Oxford. Daniel Susskind berargumen bahwa AI dan automasi tidak hanya akan menggantikan pekerjaan rutin, tapi juga pekerjaan kognitif tingkat tinggi secara bertahap.
Dalam buku tersebut dituliskan bahwa kita sedang menuju pada peradaban di mana “kerja” (dalam arti tradisional) jauh berkurang atau bahkan hilang untuk sebagian besar orang. 😬
Kira-kira impact-nya apa saja? Saya mencoba merangkum hal ini dengan beberapa point analogi sederhana. Ini dia:
Keguncangan Ekonomi Dunia (The Great Economic Gridlock)
Ini adalah masalah paling dasar. Ekonomi kapitalis membutuhkan sirkulasi (perputaran duit), dimana sebuah perusahaan butuh pekerja, kemudian pekerja mendapatkan gaji, dan dari gaji tersebut akan dipakai pekerja untuk membeli produk perusahaan dan perusahaan lain.

Masalahnya adalah Jika AI mengerjakan segalanya, perusahaan memang menjadi super efisien dan murah. Tapi kalau tidak ada manusia yang digaji, siapa yang bakal beli produknya?
Oleh karena itu, jika AI kita biarkan “ugal-ugalan” maka kemungkinan besar sistem ekonomi global bisa freeze (macet total). Uang akan menumpuk di segelintir pemilik server, pemilik perusahaan AI, dan kaum atas, sementara miliaran orang tidak punya daya beli.
Gelar dan Pengetahuan Manusia, Buat Apa?
Selama ratusan bahkan ribuan tahun, belajar adalah investasi manusia untuk bekerja dan berkarya di dunia. Mahasiswa kedokteran belajar karna ingin menjadi dokter dan membantu manusia lain, seorang programmer belajar karna ingin membuat sesuatu yang berguna untuk khalayak banyak, dan lain sebagainya.

Namun skenario bilamana AI bisa melakukan diagnosis medis, menulis kode program, hingga merancang infrastruktur jembatan yang lebih baik dari manusia, maka ijazah dan gelar nantinya tidak akan relevan.
Jika hal tersebut suatu saat menjadi kenyataan, maka kemungkinan besar yang akan terjadi adalah krisis Identitas. Kita selama ini hidup dalam budaya yang menjadikan pekerjaan sebagai “akar” identitas diri.
Apa gunanya bangun pagi kalau mesin sudah mengerjakan semuanya?
Coba perhatikan jika kita sedang berkenalan dengan orang baru, pertanyaan kedua setelah nama biasanya adalah “Kerja di mana?” atau “Bidangnya apa?”, Karna sebuah pekerjaan bukan hanya cara untuk mencari uang, tapi sudah menjadi label harga diri dan status sosial.
Jika semua pekerjaan telah dihandle oleh Artificial Intelligence, maka manusia tak ada harkat bahkan martabatnya lagi disini.
Bayangkan begini, kalian adalah seorang Web Engineer atau Web Developer, identitas yang melekat pada kemampuanmu adalah solving complex logic atau membangun sistem web yang kompleks mulai dari hulu hingga hilir.
Jika suatu saat AI bisa membangun seluruh sistem itu hanya dengan sekali klik, apa yang terjadi? Kamu nantinya bukanlah “Si Ahli Coding” lagi, tapi statusnya berubah menjadi “User” biasa, karna yang kamu bisa, semuanya sudah bisa dikerjakan oleh AI.
Perubahan status dari “Pencipta/Engineer” menjadi “Pengguna/Operator” inilah yang membuat manusia akan “njeglek” secara mental. Kita dipaksa mencari cara baru untuk merasa berharga tanpa mengandalkan jabatan atau keahlian teknis kita.
Munculnya Konsep Kasta Baru (Made in Human)
Konsep ini sebenarnya adalah hukum ekonomi dasar yakni Semakin langka sesuatu, maka akan semakin mahal harganya.
Di masa depan, ketika AI sudah memproduksi segalanya secara masif, cepat, dan sempurna, “kesempurnaan” itu sendiri akan menjadi murah dan membosankan. Di titik itulah, segala sesuatu yang memiliki “jejak manusia” (kekurangan, emosi, dan usaha fisik) akan naik kelas menjadi barang mewah.

Mirip seperti tren piring keramik buatan tangan yang lebih mahal daripada piring plastik pabrikan, atau jam tangan yang dirakit dan “dibelai” melalui tangan manusia dari nol versus dibuat mesin/
Pekerjaan yang melibatkan sentuhan fisik dan empati manusia akan jadi barang mewah yang sangat mahal.
Analogi sederhananya suatu saat nanti akan terjadi, mungkin akan ada masanya dimana Curhat ke psikolog AI itu gratis atau murah, namun melakukan konseling langsung dengan psikolog manusia harganya akan menjadi selangit. Atau, sekolah dengan guru AI itu standar, tapi sekolah dengan guru manusia adalah status sosial tinggi. It’s maybe!
Krisis Skill pada Manusia
Jika AI kedepan melakukan segalanya selama 10, 20 hingga 50 tahun lagi (who knows), maka kemungkinan besar manusia akan lupa cara melakukan hal-hal dasar.
Secara tidak langsung, kita akan menjadi spesies yang sangat rapuh. Coba bayangkan, jika terjadi solar flare (badai matahari) yang mematikan perangkat elektronik atau krisis energi masif, manusia tidak akan tahu cara memperbaiki peradaban karena semua “otaknya” berada di server yang telah mati.
Bayangkan kita hidup di dunia yang mana semua orang menggunakan kalkulator canggih untuk menghitung apa pun, bahkan 1×1 atau bahkan 2+5 perhitungan-pun manusia terbiasa untuk menggunakan AI.

Karena saking praktisnya, sekolah “mungkin” tidak lagi mengajarkan perkalian, dan anak-anak tidak akan tahu cara menghitung manual di kertas.
Lalu, tiba-tiba “kalkulator magic (Si AI) itu hilang” (karena solar flare atau krisis energi) (karna AI butuh server dan internet). Pada kondisi itu, dunia masih membutuhkan jawaban cepat untuk membangun jembatan atau perdagangan atau memperbaiki sesuatu dengan perhitungan presisi, tapi tidak ada satu pun manusia yang ingat cara menghitung secara manual. Karna sudah terbiasa dibantu AI.
Apa yang akan terjadi jika demikian? Peradaban akan macet kah?
Sebuah intisari
Kehadiran AI bukanlah alat bantu yang memberi kepraktisan semata, melainkan juga adalah tantangan eksistensi bagi manusia itu sendiri. Manusia dipaksa untuk mencari cara baru agar tetap merasa berharga dan menjaga “otot” kemampuan manualnya agar peradaban tidak runtuh saat teknologi sedang padam.
Dulu, teknologi itu seperti Sepeda. Sepeda membantu kita pergi lebih cepat, tapi kaki kita tetap kuat karena kita yang mengayuh. Kalau sepedanya rusak, kita masih bisa jalan kaki.
AI sekarang lebih mirip Kursi Roda Elektrik. Sangat nyaman dan cepat, tapi kalau kita menggunakan itu terus-menerus selama bertahun-tahun tanpa pernah berdiri, otot kaki kita akan lumpuh. Begitu baterai kursi rodanya habis, kita tidak bisa ke mana-mana karena sudah lupa cara jalan kaki.
Salam Satu Jiwa untuk Manusia!
Artikel ini lahir dari rasa prihatin atas gelombang layoff masif akibat efisiensi AI, yang ironisnya juga dibarengi dengan lonjakan harga komponen PC yang makin tidak masuk akal, karna kebutuhan masif dari data center AI.
Sumber inspirasi artikel:
- https://www.danielsusskind.com/a-world-without-work
- https://calumchace.com/the-economic-singularity-and-the-five-as/
- https://www.businessinsider.com/read-oracle-layoff-email-employees-job-cuts-2026-3
Tinggalkan Balasan