Press ESC to close

Dua Jejak Blunder Mozilla Firefox

Firefox adalah browser legendaris yang sangat getol membumikan jargon “Privacy First” dan Open Source. Namun, realitas tidak selamanya seindah jargon.

Artikel ini akan mengangkat dua fitur kontroversial yang pernah ada di dalam tubuh Firefox, yang secara ironis bertentangan dengan prinsip transparansi yang mereka tuntut dari developer independen.

Apa saja itu? Mari kita bedah satu per satu.

1. Keanehan Fitur “Pocket” (2017-2025)

Pocket adalah layanan “read-it-later” yang Mozilla akuisisi pada tahun 2017 silam. Service ini terintegrasi secara hardcode ke dalam Firefox sebagai fitur bawaan, lengkap dengan ikon dan integrasi UI.

Nah, yang menjadi masalah disini adalah fitur Pocket ternyata memiliki backend dan infrastruktur yang sepenuhnya adalah sistem Proprietary. Public tidak bisa tahu secret sauce tentang backend ini.

Yang lebih menjadi ironi adalah, hingga detik ini (saat artikel ini ditulis) Mozilla menolak ekstensi developer kecil yang kodenya di-minify dengan alasan “tidak bisa diaudit”, plus mengharuskan developer mengupload full source code ke AMO reviewer.

Apakah ini yang disebut sebagai ketidakkonsistenan kebijakan?

Jika kita telisik secara lebih detail, sebenarnya Pocket ini memang sedikit banyak berseberangan dengan visi atau misi dari Firefox itu sendiri.

  • Pocket menggunakan sistem login, penyimpanan, dan syncing yang berjalan di server milik mereka sendiri.
  • Tidak ada opsi self-host.
  • Meskipun akhirnya dibuka sebagian, fitur Pocket tidak bisa sepenuhnya dinonaktifkan, bahkan oleh pengguna power-user.

Bahkan komunitas sampai membuat inisiatif sendiri di repo open-pocket karena Mozilla tak kunjung menepati janji membuka kode servernya sejak 2017.

open-pocket adalah repo dari komunitas yang mencoba membuat ulang Pocket karena Mozilla tidak kunjung membuka source code servernya meski sudah berjanji sejak akuisisi 2017.
https://github.com/open-pocket/open-pocket.

Pada 2025 silam, Mozilla akhirnya menutup/mematikan Pocket karena biaya maintenance yang tinggi dan kurangnya adopsi. Dan hal ini menjadi pelajaran bahwa proprietary service tidak selalu sustainable, bahkan jika dimiliki organisasi “open”. 🤔


2. Kontroversi Fitur “Cliqz” di Jerman (2017-2020)

Pada tahun 2017, Mozilla diam-diam menyuntikkan ekstensi Cliqz ke Firefox versi distribusi untuk negara Jerman, tanpa izin eksplisit untuk semua pengguna di negara itu.

Ekstensi ini pada dasarnya memiliki beberapa hal yang tidak bisa dijadikan dasar untuk melindungi privasi pengguna yang menggunakan Firefox pada masa itu. Beberapa fitur ini sempat menimbulkan pertanyaan dari komunitas:

  • Cliqz Mencatat semua URL yang dikunjungi pengguna.
  • Mengirim data tersebut ke server Cliqz untuk analisis dan saran pencarian.
  • Disisipkan di luar mekanisme opt-in biasa (tanpa install manual atau prompt yang jelas). Intinya user di Jerman tidak tahu menahu bahwa Firefox memasang ini untuk mereka.

Komunitas bereaksi cukup keras, karena tindakan itu bertentangan dengan prinsip transparansi yang mereka harapkan dari Mozilla. Karna pada waktu itu, Mozilla mengakui hal ini sebagai “eksperimen,” namun dilakukan tanpa komunikasi transparan.

Reddit discussion yang berisi link terkait kontroversi Cliqz. Link

Kritik besar-besaran muncul di berbagai forum karena Firefox dikenal dengan misi privasi-nya, tetapi justru menyisipkan semacam “tracking engine.”

Terlebih lagi, Cliqz adalah perusahaan komersial yang juga berinvestasi di mesin pencari alternatif.

Jika kalian ingat, Firefox dikenal vokal dalam mengkritik praktik data Google karena isu data, tapi ternyata mereka sendiri pernah terungkap mengirim data sensitif pengguna ke pihak ketiga tanpa persetujuan eksplisit.

Di satu sisi, Firefox ingin menjaga keamanan pengguna dengan cara audit kode. Tapi di sisi lain, beberapa langkah bisnis masa lalu justru memperlihatkan kontradiksi pendekatan itu.

Bulan Mei 2020 adalah akhir Hayat Cliqz. Perusahaan Cliqz akhirnya tutup buku karena pandemi dan gagal bersaing. Investasi Mozilla di sana hangus.


Bagaimana menurut kalian dengan Mozilla Firefox?

Artikel ini tidak bermaksud menjatuhkan Mozilla, tapi lebih kepada refleksi kritis terhadap inkonsistensi kebijakan di organisasi besar open-source tersebut.

Muhammad K Huda

A non exhausted blogger person within fullstack engineer (spicy food), open source religion, self-taught driver and maybe you know or don't like it. Simply says, Hello from Me!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cek untuk notifikasi e-mail jika komentar dibalas.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.