
Ada kepuasan tersendiri saat kita berhasil “memulangkan” sesuatu yang pernah hilang. Bagi saya, sesuatu itu adalah sebuah domain: ibahasa.com.
Perjalanan project ini sebenarnya bukan cerita baru. Mundur ke sekitaran tahun 2016-2017, jauh sebelum demam Artificial Intelligence (AI) melanda dunia seperti sekarang, saya pernah membangun ibahasa.com sebagai platform online EYD checker.
Saat itu, ambisi saya adalah ingin membantu orang menulis bahasa Indonesia dengan benar sesuai kaidah. Project itu sempat mengudara selama setahun, namun karena kesibukan pekerjaan di industri startup yang menyita waktu, saya terpaksa melepasnya. Domainnya hangus, dibeli orang lain, dan ibahasa.com pun masuk ke dalam kotak kenangan “project yang belum selesai.”
Hingga akhirnya di penghujung tahun 2025, rasa penasaran membawa saya kembali mengetikkan nama domain tersebut di kolom pencarian penyedia domain. Ternyata, statusnya FOR SALE. Tanpa pikir panjang, saya membelinya kembali. π
Evolusi Ide: Mengapa Bukan EYD Checker Lagi?
Setelah domain kembali ke tangan, pertanyaan besarnya muncul: Mau dibawa ke mana ibahasa.com di tahun 2026 ini?
Membuat ulang EYD Checker atau alat bantu tata bahasa di era sekarang terasa seperti usaha yang sia-sia (wasteful) π. Kita harus realistis, LLM (Large Language Model) saat ini sudah sangat mahir berbahasa Indonesia. AI bisa mengoreksi tanda baca, mengubah nada bicara dari formal ke santai, bahkan menulis puisi dalam hitungan detik.

Membangun alat koreksi manual di tengah gempuran AI yang sudah super-intelligent adalah langkah mundur.
Saya butuh sesuatu yang memiliki “jiwa”, sesuatu yang tidak bisa ditangkap secara sempurna oleh sekumpulan parameter mesin. Inspirasi itu akhirnya datang dari persilangan antara KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang formal dan Urbandictionary.com yang liar, ditambah sangat kayanya bahasa daerah di Indonesia.
Saya ingin membangun sebuah kamus kontemporer yang mencakup bahasa slang gaul, dialek lokal (Jawa, Sunda, Betawi, Batak, Bali, dsb), hingga bahasa Indonesia tempo dulu era Van Ophuijsen (bahasa sebelum Indonesia merdeka). wkwkwk
Idenya mungkin terlihat biasa saja di permukaan. Tapi setelah melakukan riset kecil-kecilan, ternyata belum ada platform di Indonesia yang secara serius mengurasi pergeseran bahasa ini secara terpadu dan interaktif.
Dibalik Ibahasa.com ada Worker dengan 8+ Model AI LLM dan Provisioning Manusia
Pertanyaan yang sering muncul saat ini adalah: “Apakah isinya cuma hasil generate AI?”
Jawabannya adalah BIG NO. Meskipun secara teknis saya adalah seorang pengembang yang akrab dengan AI, saya tidak ingin ibahasa.com menjadi pabrik konten sampah hasil copy-pasting mesin.
Secara engine, ibahasa memanfaatkan kekuatan 8 Model LLM (bahkan lebih, karna saya tidak bisa menghitung total model di openrouter). Semua model ini digunakan sekaligus untuk fase riset dan verifikasi data awal.
Saya menggunakan kombinasi dari GPT, Gemini, Mistral, Claude, Grok, Qwen, hingga Perplexity. Kenapa seperti itu? Karna, setiap model punya karakteristik unik dalam memproses bahasa. Namun, posisi AI di ibahasa.com di sini hanyalah sebagai asisten riset, bukan pengambil keputusan.
Prinsip utama ibahasa.com adalah Human-in-the-loop. Kenapa? Karena AI secanggih apa pun saat ini masih sering gagal menangkap nuansa rasa (feel) dari sebuah kata lokal.

Sebagai contoh, coba tanya AI apa arti kata Nggremeng dalam bahasa Jawa. Mesin mungkin akan menjawab “menggerutu” atau “berbicara sendiri”. Tapi, seorang manusia tahu bahwa Nggremeng punya konotasi frekuensi suara yang rendah, nada yang repetitif, dan ada aura kekesalan yang spesifik di sana. π
Belum lagi, kata-kata slang Bahasa Jawa, seperti
Bajigur,Garangandan antek-anteknya. π
Atau kata Nggapleki; AI mungkin tahu itu artinya menjengkelkan, tapi mereka sulit memberikan contoh penggunaan yang pas dalam konteks tongkrongan yang sebenarnya. Di sinilah peran kurator manusia menjadi harga mati. π₯Έπ₯Έ
Arsitektur Multilingual
Ibahasa.com didesain untuk menangkap Real Daily Words dan juga sejarah kata gaul di Indonesia. AI kita gunakan untuk mencoba mengurasi kata-kata yang benar-benar digunakan di jalanan, di media sosial, dan di percakapan sehari-hari yang pastinya tidak masuk ke dalam radar KBBI.
Selain itu, sejak awal platform ini saya rancang dengan arsitektur multilingual. Saat ini tersedia dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Alasannya adalah karna melihat potensi bahwa orang luar negeri pun memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap budaya kita. Mereka mungkin mengerti bahasa Indonesia formal, tapi mereka akan bingung saat mendengar temannya berkata “Gokil” atau “Mager”.
Ibahasa.com/en hadir menjadi jembatan agar mereka bisa memahami konteks tersebut dalam bahasa Inggris yang akurat.
Untuk memastikan kualitas konten, saya tidak sendirian. Di belakang layar, ada beberapa kurator ahli yang membantu mengecek ketepatan bahasa Inggris serta validitas dialek lokal dan slang. Ibahasa.com menggunakan AI untuk membantu riset awal, tapi keputusan final dan sentuhan kontekstual tetap berada di tangan manusia.
Membangun Komunitas, dan Database Static
Saya menyertakan beberapa fitur di ibahasa.com yang sebenarnya cukup overkill untuk sebuah kamus: π dimana ada:
- Voting System: User bisa melakukan upvote atau downvote pada definisi kata. Ini penting untuk memvalidasi apakah sebuah definisi masih relevan atau sudah bergeser maknanya.
- Search engine ala Elasticsearch versi ringan. Dimana Ibahasa menggunakan Meilisearch untuk sistem Search atau pencarian.
- Contribute Words: Siapa pun bisa menyumbangkan kata baru. Bahasa itu hidup dan berkembang setiap detik, dan tidak mungkin satu tim kecil bisa menangkap semuanya. Silahkan contribute di ibahasa.com, kita akan kurasi kata itu. Hehe
- Leaderboard: Memberikan apresiasi bagi mereka yang paling aktif berkontribusi dalam menjaga kelestarian dan perkembangan bahasa kita.

Fitur-fitur ini saya buat agar ibahasa.com menjadi platform yang hidup, dan bukan hanya database kamus statis yang membosankan.
Penutup
Bahasa adalah entitas yang bernapas. Ia berubah seiring zaman, terpengaruh oleh tren, teknologi, hingga politik. Ibahasa.com adalah upaya kecil saya untuk mendokumentasikan perubahan itu, mulai dari kata-kata kuno yang mulai terlupakan hingga slang baru yang muncul kemarin sore di Instagram, Thread, Twitter (X) atau bahkan reddit.
Tujuan akhir ibahasa bukan untuk menyaingi kamus resmi negara, melainkan menjadi pelengkap yang memberikan konteks sosial pada setiap kata yang kita ucapkan sehari-hari.
Selamat datang di ibahasa.com. Mari kita rayakan kekayaan bahasa Indonesia, mulai dari yang paling baku hingga yang paling “nyeleneh”. ππ
Tinggalkan Balasan