Press ESC to close

Jago AI Tapi Belum Cuan? Mungkin Ini Masalahnya

Di Threads (Instagram) sedang ramai pembahasan mengenai AI dan masa depan dunia kerja. Tapi dari semua yang saya tangkap, ada satu pertanyaan yang paling menarik, siapa sih yang sebenarnya dibayar atau cuan ketika semua orang mulai terbiasa menggunakan AI? Dan jawabannya ternyata bukan seperti yang kita duga. 😬

Microsoft Work Trend Index 2026 mencatat 33% pekerja Indonesia sudah jadi pengguna AI tingkat lanjut (advanced AI user), dua kali rata-rata dunia (16%). 72% pengguna AI di Indonesia bilang mereka bisa mengerjakan hal-hal yang setahun lalu tidak bisa mereka kerjakan.

Dan yang membuat agak berbeda adalah 85% pekerja Indonesia khawatir ketinggalan kalau tidak cepat beradaptasi AI.

Artinya, narasi “Indonesia tertinggal soal AI” itu sepertinya tidak tepat. Justru sebaliknya, kecepatan kita mengadopsi AI jauh melampaui kecepatan kita mencetak spesialis AI.

Bisa Pakai AI Bukan Lagi Pembeda, Tapi Syarat Minimal

Ini poin yang paling sering dilewatkan orang.

Kalau sepertiga angkatan kerja sudah mahir pakai AI, maka “bisa pakai ChatGPT” bukan lagi keunggulan, itu syarat minimal.

Dulu jago prompt, tahu tools, cepat adaptasi itu nilai jual. Sekarang semua orang punya itu, termasuk fresh graduate. Jadi sekarang, jago AI bukan lagi nilai tambah (edge), tapi dasar yang wajib (floor), yaitu syarat minimal untuk ikut bermain di kolam (bekerja).

Dan angkanya mendukung: kebutuhan skill AI di Indonesia naik 148% antara 2023 dan 2025, jumlah perusahaan AI tumbuh 965%, tapi hanya sekitar 30.000 lulusan setahun yang memenuhi syarat untuk pekerjaan data dan AI. Sementara negara butuh 9 juta tenaga digital terampil pada 2030. 😅

Angka-angka yang saya paparkan tersebut dari sumber-sumber di bagian bawah artikel ini.

Ada lubang besar antara “banyak yang bisa pakai” dan “sedikit yang bisa membangun dan mengelola”.

Siapa yang Sebenarnya Dibayar

Dari data itu, jawaban atas judul artikel ini adalah orang itu bukan yang paling jago prompt, tapi yang ada di posisi langka dan ternyata masih sedikit orang mengisi posisi ini. 4 kelompok yang permintaannya naik tapi penawarannya langka diantaranya:

  1. Mampu membangun dan mengelola AI: data engineer, ML engineer (insinyur machine learning), orang yang bikin pipeline (alur pengolahan data) dan yang memasang serta menjalankan model AI. Bukan cuma yang pakai model buatan orang lain.
  2. Mampu mengaudit dan menjaga kualitas hasil AI: yang paling menarik. Karna makin banyak output AI, makin dibutuhkan manusia yang bisa menilai mana yang benar dan mana yang cuma mengarang (halusinasi). Pekerja Indonesia sendiri menilai berpikir kritis (critical thinking) dan menjaga mutu hasil AI (quality control) sebagai prioritas yang naik, di atas rata-rata global.
  3. Mampu menerjemahkan AI ke bisnis nyata (real scenario): bukan demo, tapi sistem yang beneran dipasang dan dipakai di bisnis sehari-hari, bukan sistem yang hanya berjalan di atas kertas (demo, playground, etc.).
  4. Mampu memberi edukasi ke orang lain: karna negara butuh jutaan tenaga, dan pelatihan (Digital Talent Scholarship, beasiswa talenta digital dari pemerintah, sudah melatih 100.000+ orang; elevAIte, program pelatihan AI, menargetkan 1 juta orang) butuh pengajar yang paham, bukan sekadar fasilitator.

4 posisi tersebut merupakan faktor trigger untuk kalian yang ingin benar-benar cuan di era AI. Bukan saklek harus menguasai ke-empat itu, namun setidaknya menguasai salah satu hal tersebut bagi kalian akan punya manfaat nyata di dunia pekerjaan.

Salah Paham mengenai Vibe Coding

Ilustrasi Vibe Coding & The Value Of The Engineer.
Sumber: Gemini AI

Ada beberapa komunitas yang bilang bahwa vibe coding akan meruntuhkan nilai engineer. Memang benar, seseorang yang “bisa bikin demo cepat” memang jadi komoditas murah, dan yang nilainya cuma di situ adalah orang-orang yang paling tertekan suatu saat nanti.

Demo itu bisa rusak begitu masuk ke environment production. Masalah nyata (data, konsistensi, biaya, keamanan, skala) tidak selesai dengan prompt yang bagus. Akan banyak behaviour yang berbeda antara demo dan production.

Perusahaan yang buru-buru “ikut AI” cuma lewat vibe coding sedang belajar cara mahal bahwa demo bukanlah produk. Dan yang dibutuhkan setelah demonya jalan justru orang yang mampu membuat sistemnya benar-benar berjalan, tahu kenapa ini rusak, dan bisa memperbaikinya. Itu sangat tidak tergantikan dan itulah yang akan dibayar.

Tapi, Bukan Berarti Semua Orang Harus Jadi Engineer AI

Bagian yang sering terlewat adalah cara “memanfaatkan AI” di Indonesia itu sangat luas dan problemnya berbeda-beda. Dan yang benar-benar cuan bukan cuma yang coding dengan AI.

Guru yang memakai AI untuk menyusun materi lebih cepat, akuntan yang mengotomatiskan laporan, penulis yang memakai AI sebagai editor, atu mereka yang menggunakan AI untuk menaikkan nilai pekerjaannya juga ikut naik. Yang menjadi pembeda adalah mereka tidak berhenti di “bisa pakai”, tapi memakai AI untuk menghasilkan sesuatu yang sebelumnya tidak bisa mereka buat.

Kunci dari semua ini adalah AI dipakai untuk menaikkan kualitas, bukan cuma mempercepat. Yang naik nilainya adalah yang memakai AI untuk kerja yang lebih spesifik, bukan yang memakai AI untuk pekerjaan yang sama tapi lebih cepat.

Jadi, Siapa yang Bakal Cuan?

Jawaban jujurnya adalah pasar membayar kelangkaan, bukan keramaian.

Di Indonesia, orang yang terbiasa menggunakan AI bukanlah orang yang langka, tapi sudah sangat menjamur. Yang langka adalah yang bisa membangun, mengelola, mengaudit, menerjemahkan ke masalah nyata, dan mengajari orang lain.

Di titik itu, permintaan (naik 148%) jauh melebihi pasokan (30.000 lulusan setahun). Dan di era di mana sepertiga pekerja sudah mahir pakai AI, maka yang akan dihargai kemungkinan besar adalah orang yang paling dalam memahami AI itu.


Kesimpulan

Angka di artikel ini dari Microsoft Work Trend Index 2026, Edstellar, dan laporan pemerintah Indonesia yang dikutip AI in Asia (Juli 2026), bukan riset sendiri. “Siapa yang dibayar” adalah interpretasi atas data itu, bukan jaminan. Pasar bisa berubah cepat, dan di era AI, satu-satunya yang pasti adalah perubahan itu sendiri.

Gimana menurut kalian? Terima kasih sudah baca.

Sumber data & inspirasi:

Artikel ini adalah opini pribadi yang memakai data publik untuk membedah pertanyaan yang sedang ramai, tanpa niat menyudutkan pihak manapun.

M. Khoirul Huda

A non exhausted blogger person within fullstack engineer (spicy food), open source religion, self-taught driver and maybe you know or don't like it. Simply says, Hello from Me!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cek untuk notifikasi e-mail jika komentar dibalas.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.