
Bagi saya pribadi, ibahasa.com bukan kamus biasa, melainkan kamus bahasa Indonesia kontemporer yang merangkum slang gaul, dialek daerah, sampai bahasa tempo dulu era Van Ophuijsen. Cerita lengkapnya pernah saya tulis di artikel ini, termasuk bagaimana saya kehilangan domainnya lalu membelinya kembali di penghujung 2025.

6 bulan kemudian, saya membelokkan arah ibahasa.com: kini situs ini punya laman riset dan benchmark di sana. Bukan karena kamusnya gagal atau isinya jelek. Cara orang mencari arti kata saat ini sudah berubah total. Sekarang AI sudah ada di berbagai mesin pencari populer, dan orang semakin terbiasa memakai AI sebagai pendamping. Hal itu tidak bisa dilawan dengan hanya menulis definisi di sebuah situs web.
Ada Sesuatu yang Membuat Saya “Berhenti”
Ceritanya begini, sewaktu saya membuka data trafik ibahasa.com, ada satu hal kontras yang langsung membuat saya terbelalak.
1.150 halaman kata di ibahasa.com, gabungan seluruhnya, menghasilkan 17 sesi organik dalam sebulan terakhir (sekitar Juli 2026) dari pembaca sungguhan yang datang lewat mesin pencari.
Sementara satu halaman kamus tunggal, /en/kamus/bokap, sendirian menghasilkan 790 sesi organik dalam periode yang sama (Juli 2026), sempat duduk di peringkat 2 Bing untuk kata kuncinya sendiri. Eits… tapi tunggu, jangan salah menyimpulkannya dulu, saya jelaskan sebentar.
Pada data Bing Webmaster Tools, akhirnya ketahuan lah dari mana trafik itu datang. Query yang masuk ke halaman itu bukan “bokap artinya” saja, tapi campuran yang jauh lebih liar: bokap kakak ngerayu adik ngentot, bokap kakak beradik hott, bokap papa jepang, bokap barat, dan semacamnya. Kliknya naik terus, sampai 21 klik dalam satu pekan di pertengahan Agustus 2026.

Jadi trafik di halaman yang “paling produktif” itu sebenarnya trafik nyasar. Orang datang bukan karena mau tahu arti kata bokap, tapi karena salah ketik atau salah paham dari kata kunci lain yang jauh dari urusan kamus. Begitu sadar bahwa ini kamus, mereka langsung pergi. Makanya sesi organiknya tinggi tapi keterlibatannya rendah, hanya sekitar 22 persen yang benar-benar berinteraksi.
Kalau saya perkirakan secara kasar dari pola yang sama di halaman-halaman lain, sekitar 70% sampai 80% trafik halaman kamus (lema) di ibahasa berasal dari orang yang nyasar, bukan orang yang memang ingin mencari arti kata. Angka ini perkiraan, bukan hasil pengukuran menyeluruh, tapi polanya konsisten: kata-kata yang ramai justru yang mirip dengan kata kunci yang tidak ada hubungannya dengan kamus.
Halaman “terlaris” di kamus saya ternyata ramai bukan karena kamusnya bagus, tapi karena orang nyasar. 😅 Ironisnya, itu justru makin menegaskan: kamus sebagai halaman web memang sudah tidak punya alasan untuk diklik. Tragis!
Halaman koreksi penggunaan ejaan `/ejaan` malah lebih buruk: sekitar 400 sesi di periode yang sama, tapi 97 persennya trafik yang jelas menunjukkan ciri-ciri bot (satu halaman per sesi, nol keterlibatan). Pembaca sungguhan cuma sekitar 14 orang.
Bukan “AI Yang Membunuh Kamus”, Tapi Ada Sebab Kedua
Penjelasan yang paling gampang adalah “AI membunuh pembaca kamus”. Tapi itu bukan sebab utamanya. Ada sebab kedua yang lebih spesifik, dan ini mungkin adalah kesalahan saya sendiri.

oleh: Google Gemini image generator
Google punya kategori kebijakan spam bernama scaled content abuse, yang intinya menyasar konten berskala besar: banyak halaman tipis yang diproduksi cepat dalam waktu singkat, tanpa nilai tambah berarti per halaman. Saya sempat menambah 10 sampai 100 lema per hari di bulan keempat dan kelima usia ibahasa.com (sekitar Maret sampai April 2026), dibanding 1 sampai 5 lema per hari di bulan-bulan awal. Pola pertumbuhan itu persis seperti yang ditandai oleh kebijakan tersebut.
Dampaknya bukan cuma ke halaman kata itu sendiri. Kemungkinan besar itu yang membuat Google ragu menilik URL lain di seluruh domain, termasuk halaman-halaman lain yang sebenarnya sehat.
Poin ini adalah POIN PENTING untuk kalian yang membaca artikel ini, tidak hanya untuk yang mengurus SEO: menerbitkan banyak artikel dengan cepat, di era ini, tidak lagi otomatis menjadi strategi yang menang. Menurut saya, itu justru strategi kalah: sebuah blunder yang fatal.
Ibahasa.com Tidak Mati, Ia Berganti Fungsi
Di halaman About ibahasa.com, saya menulis sendiri kenapa arah ini berubah:
“Kamusnya sudah jadi: korpus bahasa Indonesia yang kami kurasi sendiri, ditinjau oleh manusia sebelum diterbitkan. Begitu korpusnya matang, kami menemukan kegunaan kedua untuknya: sebagai alat ukur untuk menguji AI.”
Itulah titik baliknya. Kamus tidak mati, ia berganti fungsi: dari etalase jadi bahan baku. Korpus yang saya kurasi, yang tadinya dipajang untuk dibaca orang, sekarang jadi dasar untuk mengukur seberapa jauh model bahasa memahami bahasa Indonesia. Dari kamus, menjadi riset dan benchmark.
Hal yang Baru Ketahuan Setelah Ini
Ada satu hal yang baru ketahuan setelah saya mulai membongkar data trafik halaman kata untuk mengambil keputusan ini. Saya mengira sedang kehilangan pembaca karena orang lebih suka bertanya ke AI. Ternyata tidak sesederhana itu.
Saya tidak sedang kehilangan pembaca ke AI. Saya sedang diserbu oleh AI, dengan cara yang jauh lebih harfiah.
Itu cerita untuk bagian kedua dari seri ini. Karena ternyata, halaman yang “sepi” itu tidak benar-benar sepi: 91 persen trafiknya datang dari bot, dan bot itu menyamar dengan memiliki banyak IP.
Tinggalkan Balasan