Programer Web dan Lubuntu

Dunia terus berputar, kehidupan terus berjalan, dan perkembangan teknologi semakin menjadi. Nafsu manusia akan teknologi masa kini semakin tak terelakkan, seiring munculnya perangkat-perangkat baru yang lebih menjanjikan dibanding dengan perangkat yang mereka pakai. Pada akhirnya manusia selalu tak terpuaskan dengan apa yang mereka pakai saat ini. Begitulah karakter bawaan kita, penuh nafsu tak terkendali.

Pengungsi Rohingya di Bangladesh (act.id)

Ketika sebagian orang (manusia) lahir dan hidup dengan sangat berkecukupan, semua teknologi dan perangkat canggih terbaru nan modern mampu mereka genggam dan miliki. Disisi lain, masih banyak orang hidup dengan penghidupan yang kurang berkecukupan, jangankan membeli perangkat baru, untuk menghidupi kesehariannya saja mereka masih harus susah payah memeras keringat. Bahkan sebagian dari mereka ada yang harus berjuang untuk kelangsungan dan kesejahteraan hidup melawan sebuah rezim, seperti yang terjadi di Rohingya (Rakhine State), Myanmar akhir-akhir ini.

Penulis tidak akan membahas jauh mengenai retorika pahit manis kehidupan manusia, namun karena tulisan ini berkaitan dengan kesederhanaan hidup, pre-story diatas hanyalah sebuah pemanis buatan sekaligus pengingat untuk kita yang ‘mungkin’ lebih beruntung dibanding mereka yang masih berkekurangan atau mengalami musibah hidup.

Who is Programmer?

Sesuai judul, saya menyelipkan kata programmer (english) atau dalam Bahasa Indonesia adalah programer (hilang satu huruf -m) atau dalam bahasa yang kurang populer lain disebut dengan ‘pemrogramMana kala seseorang yang berkutat dengan perakitan maupun pembuatan perangkat lunak dialah yang bisa kita sebut sebagai programmer. Mereka bekerja pada sesuatu yang abstrak, tidak terlihat, namun ada manfaatnya.

Lebih jauh lagi tentang programmer, ada beberapa kategori yang setidaknya dapat penulis paparkan berkaitan dengan seorang pemrogram. Beberapa yang cukup populer saat ini diantaranya adalah:

  • Desktop / Computer Programmer (Pemrogram Aplikasi pada Komputer/Laptop)
  • Game Programmer (Pemrogram permainan pada desktop/komputer)
  • Web Programmer (Pemrogram Website)
  • Mobile Programmer (Pemrogram aplikasi pada perangkat handphone/smartphone)
  • Mobile Game Programmer (Pemrogram aplikasi permainan pada perangkat smartphone

Jika dilihat dari daftar diatas, ternyata cukup banyak pengkategorian dalam dunia programer, meskipun masih ada (bahkan banyak) kategori programer lain yang belum saya tuliskan, semisal VR Programmer (Virtual Reality Programmer) yang tentunya salah satu jenis pemrogram terbaru masa kini.

Mini Specs For Web Programmers

Sedangkan yang akan penulis bahas disini adalah mengenai Web Programmer, pemrogram dunia website. Seorang pemrogram web tentu membutuhkan perangkat atau tools yang dapat dipergunakan untuk melakukan pembuatan website. Mulai dari pembuatan arsitektur website, hingga maintenance (perawatan website itu sendiri).

Berkaitan dengan pre-story diatas, kasus yang sangat nyata terjadi saat ini adalah web programmer membutuhkan spesifikasi perangkat yang dapat dikatakan harus mumpuni untuk menopang pekerjaan mereka. Meskipun ada beberapa web programmer yang membutuhkan spesifikasi minim, namun jika kita menyentuh ranah full-stack web programmer atau programer web yang memiliki job desc melebihi web programmer pada umumnya atau beberapa teman menyebutnya serabutan programer. Tentu saya tidak bisa menjamin keberlangsungan seorang fullstack tersebut jika masih menggunakan PC atau laptop dengan spesifikasi cukup mini.

‘Serabutan’ programer disini maksudnya bukan karena pekerjaan mereka adalah serabutan semacam kuli bangunan, namun lebih kepada lini pekerjaan yang menjadi tanggung jawab mereka cukup kompleks.

Jika kita melihat, MacBook seakan-akan adalah tentengan wajib programer saat ini. Ada benarnya namun banyak salahnya. Maksudnya adalah seorang programmer tidak diwajibkan menggunakan Mac untuk kesehariannya. (Semoga opini saya ini tidak menjadi pergunjingan). Tergantung programer itu sendiri, mereka lebih nyaman menggunakan apa dan bagaimana mereka terbiasa menggunakannya adalah faktor penting yang akan berbicara. Atau kebijakan perusahaan yang mengharuskan programmer mereka menggunakan apa dengan spesifikasi apa, tentu saja ini berbeda kasus.

Sedangkan menurut pengamatan penulis sendiri, hampir rata-rata programmer di perusahaan berbasis teknologi di Jakarta kesehariannya memang memakai Macbook. Selain itu, Laptop atau PC dengan sistem operasi Linux dan sisanya adalah programmer yang masih menggunakan OS milik Micros*ft. Alasannya? Silahkan cari sendiri. 😀

Sebelum pembahasan mini-specs ini semakin tidak terarah, penulis akan memberikan cerita yang pernah dialami penulis karena komputer utama yang penulis gunakan di rumah suatu ketika mengalami permasalahan dan sama sekali tidak bisa digunakan. Sehingga penulis harus menggunakan laptop cadangan yang pada waktu itu memiliki spesifikasi sangat minim. Berikut adalah spesifikasinya :

  • Intel Celeron Generasi Kedua (N2850)
  • RAM 2 GB
  • Harddisk 500 GB (Non-SSD)
  • Windows 8 Operating System.

Dengan spesifikasi diatas, bagaimanakah penulis dapat memanfaatkannya untuk keperluan development sehari-hari? Ramuan atau racikan apakah yang cocok untuk spesifikasi diatas?

Lubuntu Sebagai Nyawa Utama

Setelah melakukan riset sana sini, akhirnya penulis melakukan dual instalasi (dual boot) untuk OS, karena yang dipakai sebelumnya sangat tidak memungkinkan dan cukup berat berjalan. Penulis menambahkan Operating System berbasis Ubuntu Linux, detailnya adalah Lubuntu 16.04.

Lubuntu Pada Asus Netbook E Series

Kenapa harus Lubuntu? Karena Lubuntu adalah versi ‘pengiritan’ dari sistem operasi Ubuntu yang memiliki tampilan antar muka cukup memukau namun membutuhkan resource komputer dengan spesifikasi cukup tinggi, setidaknya untuk versi-versi Ubuntu diatas 16.04. Lubuntu menggunakan sistem antar muka buatan LXDE yang terkenal cukup ‘ngacir’ pada komputer spesifikasi rendah, dibanding dengan Unity atau GNOME desktop environment versi terbaru.

Disamping itu, pemilihan Lubuntu sendiri bukanlah sebuah patokan wajib, namun karena memang kebutuhan penulis yang masih harus berkutat dengan sistem ber-User Interface untuk pengembangan aplikasi yang membutuhkan perangkat lunak tertentu, semisal Google Chrome sebagai peramban (pastinya) hingga Database Management Tools semacam Dbeaver hingga Redis Desktop Manager.

Perlu diketahui sistem requirement untuk melakukan instalasi Lubuntu sangat membuat penulis sendiri sedikit kaget. Karena pada website resmi pada laman wiki, Lubuntu dapat berjalan baik pada komputer dengan prosesor sekelas Intel Pentium II dan RAM setidaknya 512 MB untuk dapat berjalan sebagai mana mestinya keperluan komputasi sehari-hari.

Pemilihan sistem operasi yang tepat untuk komputer atau laptop spesifikasi minim merupakan faktor penting yang perlu pembaca catat dengan huruf tebal. Karena bilamana sistem operasi yang dipakai sudah terlalu berat untuk berjalan pada komputer, bisa jadi jika kita melakukan instalasi dan penambahan perangkat lunak lain kemungkinan yang didapat adalah akan memberikan beban lebih kepada komputer bersangkutan.

Meski banyak sistem operasi yang berjargon Lightweight (enteng) diluar sana, namun penulis lebih memilih Lubuntu karena nama besar Ubuntu dan Lubuntu juga memiliki developer yang aktif disisi pengembangannya, selain ditopang LXDE yang cukup powerful dalam hal desktop environment.

Bagian dua dari tulisan ini nantinya akan saya pakai untuk menjelaskan sejauh mana beberapa tools programmer dapat berjalan pada mini specs diatas. Terima kasih

Silahkan baca atau ikuti tutorial di bawah yang merupakan hasil pengetesan menggunakan laptop tersebut:

Muhammad K Huda: A non exhausted blogger person within fullstack engineer (spicy food), open source religion, self-taught driver and maybe you know or don't like it. Simply says, Hello from Me!
Related Post