Sejarah Negara Kita Bukan di Bidang IT

Pernahkah berfikir bahwa sebenarnya negara kita tercinta ini mempunyai prestasi-prestasi yang luar biasa pada masa lampau ? Swasembada pangan, pahlawan-pahlawan hebat, pemimpin yang kuat, dan bahkan hingga prestasi di bidang olahraga baik badminton maupun sepakbola. Jika kita cermati lebih detil lagi, swasembada pangan misalnya, sekitaran tahun 1980-an negara kita berhasil mencapai swasembada pangan dan berhasil menciptakan produksi beras untuk skala Indonesia bahkan hingga ekspor ke mancanegara.

Kemudian kita runut lagi mengenai sejarah kemerdekaan Indonesia, para pahlawan hebat seperti Soekarno, Bung Hatta dan pahlawan-pahlawan lain yang akhir-akhir ini telah disajikan dalam bentuk movie, tak pelak kadang membuat hati ini terenyuh menyaksikan perjuangan memperebutkan kemerdekaan hingga titik darah penghabisan. Merekalah orang-orang tangguh sekaligus pemimpin hebat pada zamannya yang masih patut kita hormati, kita teladani dan kita tiru di detik ini.

Apalagi prestasi torehan yang diraih oleh atlit-atlit kita di bidang badminton pada era keemasan Susi Susanti, Icuk Sugiarto dan lainnya. Mungkin hanya satu sejarah ini, yaitu badminton yang masih mengakar di masyarakat kita sehingga badminton Indonesia masih cukup berjaya sampai saat ini. Karena pada saat penulis merangkum tulisan ini, Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan kembali meraih gelar All England 2014, menaklukkan pasangan jepang Hiroyuki Endo dan Kenichi Hayakawa 2 set langsung.

Hendra Ahsan

Itulah beberapa sejarah keberhasilan dan prestasi negara kita di kancah dunia pada masa lalu, yang jika sebenarnya kita teruskan hingga sekarang akan sangat dimungkinkan negara kita bisa lebih berjaya dari pada sekarang. Memang pada saat ini, Indonesia cukup mapan di bidang perekonomian, namun Indonesia tidak bisa dikatakan sukses dalam hal perekonomian, hanya sektor-sektor tertentu dan lebih buruknya lagi bukannya dinikmati oleh rakyat melainkan para pejabat.

Kondisi Ekonomi

Ketimpangan sektor perekonomian Indonesia akan terlihat jika pembaca yang (misalnya) asli orang pedesaan luar jawa dan tidak pernah datang ke Jakarta, kemudian suatu saat berkunjung ke Jakarta untuk urusan tertentu. Pembaca akan melihat begitu congkaknya Kota Jakarta ini dalam hal pembangunan, perekonomian dan bahkan kemacetan. Saya yakin seyakin-yakinnya, Jakarta yang sering pembaca lihat di televisi, akan sangat berbeda dari yang pembaca lihat di kotak elektronik kecil itu. Jakarta akan lebih heboh jika pembaca melihatnya secara langsung, merasakannya dan mendalami kota ini. Kemacetan, kebisingan, polusi dan lain sebagainya.

Itulah salah satu contoh ketidakadilan sektor ekonomi Indonesia, yang seakan bertumpu hanya di pulau Jawa, dan bermarkas hanya di satu kota, Jakarta. Meskipun sempat beberapa kali terdengar ada kabar bahwa ibu kota akan dipindah ke pulau lain selain pulau Jawa, tapi penulis yakin akan sangat berat mengaplikasikannya jika tidak ada ketegasan dari pemerintah. Pemindahan ibu kota bukan tanggung jawab warga, sepenuhnya orang atas-lah yang bertanggung jawab. Kita hanya tetap membantu ke-eksis-an ekonomi negara melalui kerja keras di bidang masing-masing.

Industri

Berbicara mengenai sejarah, Indonesia memang bukanlah negara yang menyadur sistem industrialisasi, seperti di negara-negara maju Eropa atau Amerika yang sekarang ini menjadi kiblatnya bidang industri terutama dibidang Informasi Teknologi (IT). Indonesia adalah negara yang dulunya bertumpu pada sektor pertanian, seperti yang telah penulis sebutkan diatas, bukan industri manufaktur, IT, atau yang berbentuk mesin lainnya.

Tetapi ada cerita lain dibalik sejarah ini, ternyata pada zaman sekarang bidang IT memiliki impact yang tidak kecil terhadap perekonomian negara kita. Bisa kita lihat dari lahirnya startup-startup di bidang IT yang telah menelurkan karya-karya hebat untuk kemajuan berbagai bidang. Namun, perlu ditinjau lagi bahwa kemajuan IT di Indonesia tidak serta merta dapat menyama-ratakan perekonomian rakyat atau memberi andil yang besar pada kesejahteraan rakyat Indonesia. Masih banyak adik-adik kita di pelosok sana yang masih kesulitan mengenyam jenjang pendidikan alih-alih menikmati infrastruktur IT yang memadai. Kembali lagi, kita bukanlah negara IT.

Kenapa penulis membahas mengenai IT, alasannya adalah karena inilah trend paling gempar bagi anak muda sekarang. Majunya perkembangan dan inovasi teknologi dari luar negeri mempunyai pengaruh besar bagi kehidupan rakyat kita terutama pemuda-pemudi. Seakan telah termakan dengan arus globalisasi, para professional maupun kaum awam yang tergerus oleh arus globalisasi ini akan merusak jiwa asli ketimuran atau adat asli di Indonesia. Jika ini terus kita biarkan, maka akan sangatlah berbahaya.

Memang, ada beberapa pemuda yang kembali menghidupkan informasi sejarah, tradisi maupun adat istiadat asli negara Indonesia melalui aplikasi mobile yang patut kita acungi jempol. Tapi penulis rasa, pengaruh dari aplikasi ini tidaklah terlalu besar.

Kembali Bertani

Lantas yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah sebenarnya apa yang cocok untuk negara kita ? Penulis beropini bahwa bidang pertanian-lah yang harusnya kita hidupkan untuk kembali meraih kejayaan seperti masa lampau. Tragis memang, Indonesia yang dulunya negeri yang hijau, subur, elok nan makmur harus melakukan impor beras dari negara lain. Negeri yang penuh dengan rumput hijau untuk peternakan, harus mengimpor daging sapi dari negara lain. Kenapa ini bisa terjadi ? Jawabannya adalah karena kita tidak meneruskan semangat para simbah-simbah kita yang sekarang masih hidup dan masih giat bercocok tanam di persawahan.

Pertanian Greenhouse

Memang edan sih ! Tapi apakah kita harus berputar haluan, mencopot kancing baju, lalu ke sawah dan memegang senjata petani ? Bukan, bukan seperti itu ! Mari kita lihat dulu apa saja yang petani butuhkan untuk memajukan sektor pertanian. Mungkin bisa saja dengan mengaplikasikan industri teknologi untuk pertanian, atau dengan cara lain yang dapat memberikan solusi terkait efektifitas dalam bertani sehingga bisa menghasilkan produk pertanian yang bernilai tinggi. Miris sekali jika melihat riset pertanian kita tertinggal cukup jauh oleh negara yang sebenarnya bukan negara agraris.

Masih ada kesempatan untuk mengejar ketertinggalan dan juga masih ada tempat untuk kita menggarap proses majunya negara ini. Bukan hanya di sektor pertanian tapi masih ada sektor-sektor lain yang bisa kita pelajari dari sejarah kesuksesan zaman dahulu. Kita bisa meniru semangat para pejuang kemerdekaan, karena dengan semangat merekalah Indonesia sekarang bisa terlepas dari penjajahan.

Untuk teman-temanku, para pemuda-pemudi janganlah selalu melihat dunia IT sebagai masa depan kalian. Manfaatkanlah IT untuk sewajarnya untuk menopang kehidupan kita, jangan melulu berkiblat ke barat. Karena apa ? Pasti teman-teman tahu jawabannya.

Setidaknya jika kita tidak segera merevolusi semangat para pemuda, karena penulis sendiri juga berkecimpung di dunia IT, untuk membantu sektor yang lebih cocok dan proporsional di negara kita, maka bisa dipastikan beberapa dekade lagi bukan hanya sapi yang kita impor, tapi hasil pertanian lain yang kita makan sehari-hari mungkin adalah keseluruhan hasil impor. Bukankah sekarang sudah demikian ?

Muhammad K Huda: A non exhausted blogger person within fullstack engineer (spicy food), open source religion, self-taught driver and maybe you know or don't like it. Simply says, Hello from Me!
Related Post